
Jakarta – Pola makan tinggi protein sering dikaitkan dengan kesehatan otot dan kebugaran. Namun, sebuah tinjauan ilmiah menunjukkan bahwa mengurangi asupan protein dalam kondisi tertentu mungkin memiliki kaitan dengan proses penuaan yang lebih sehat.
Temuan itu berasal dari tinjauan terhadap lebih dari 350 penelitian yang diterbitkan di jurnal Cell Press. Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa kebutuhan protein tidak sama pada setiap orang. Karena itu, hasil penelitian tersebut tidak bisa dijadikan alasan bagi semua orang untuk mengurangi konsumsi protein.
Selama ini, pembatasan kalori memang telah banyak diteliti karena dikaitkan dengan usia yang lebih panjang serta risiko sejumlah penyakit yang berhubungan dengan penuaan yang lebih rendah. Masalahnya, menerapkan pola makan rendah kalori secara konsisten dalam jangka panjang bukan hal yang mudah bagi banyak orang.
Kondisi tersebut mendorong peneliti melihat pendekatan lain. Mereka menelaah berbagai penelitian untuk mengetahui apakah pembatasan protein dapat memberikan sejumlah efek yang menyerupai pembatasan kalori, tetapi tanpa harus mengurangi jumlah kalori secara keseluruhan.
Dikutip dari NYPost, hasil tinjauan menunjukkan bahwa konsumsi protein yang lebih rendah dalam konteks tertentu berkaitan dengan sejumlah perubahan biologis. Di antaranya adalah perbaikan metabolisme, perubahan jalur sinyal nutrisi, berkurangnya kerusakan sel, serta peningkatan mekanisme yang berperan dalam pemeliharaan sel.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah fibroblast growth factor 21 atau FGF21. Hormon metabolik ini diduga memiliki peran dalam respons tubuh terhadap perubahan asupan nutrisi.
Berdasarkan penelitian pada hewan, peningkatan FGF21 dikaitkan dengan sejumlah efek, seperti meningkatnya pengeluaran energi, berkurangnya peradangan, membaiknya pengaturan gula darah, hingga kemungkinan memperpanjang usia.
Selain FGF21, peneliti juga membahas beberapa komponen penyusun protein, khususnya asam amino metionin, isoleusin, dan valin. Dalam kondisi tertentu, ketiganya diduga dapat memengaruhi jalur biologis yang berkaitan dengan pertumbuhan, metabolisme, dan proses penuaan.
Hal ini menjadi perhatian terutama pada orang dengan aktivitas fisik yang rendah. Kadar asam amino yang tinggi dalam kondisi tersebut diduga dapat mempertahankan aktivitas jalur pertumbuhan sel. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi itu berpotensi berkaitan dengan kerusakan sel, peradangan sistemik, hingga peningkatan berat badan.
Meski demikian, protein tetap memiliki fungsi penting, terutama bagi orang yang aktif secara fisik. Protein dibutuhkan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan otot serta mendukung respons tubuh terhadap olahraga.
Dudley Lamming, penulis korespondensi penelitian sekaligus peneliti dari University of Wisconsin-Madison, mengatakan manfaat protein terhadap pertumbuhan otot dan respons tubuh terhadap aktivitas fisik telah diketahui dengan jelas.
Namun, ia menilai kondisi aktivitas fisik sebagian besar masyarakat perlu turut dipertimbangkan. Menurutnya, orang yang jarang bergerak mungkin saja mengonsumsi protein melebihi kebutuhan tubuhnya, sehingga konsumsi berlebih tersebut berpotensi memberikan dampak yang kurang menguntungkan.
Meski hasil tinjauan menunjukkan adanya kaitan antara pembatasan protein dan sejumlah mekanisme yang berhubungan dengan penuaan, penelitian tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa mengurangi protein akan membuat manusia hidup lebih lama.
Pasalnya, penelitian yang dilakukan merupakan tinjauan terhadap studi-studi sebelumnya, bukan uji klinis baru yang secara langsung menguji efek pembatasan protein terhadap umur manusia. Dengan demikian, hubungan sebab-akibat masih belum dapat dipastikan.
Peneliti juga tidak menyarankan agar semua orang mengurangi asupan protein. Kelompok tertentu justru memiliki kebutuhan protein yang lebih tinggi, termasuk atlet, orang yang rutin berolahraga, ibu hamil, dan lansia.
Pada akhirnya, jumlah protein yang dibutuhkan sebaiknya tidak ditentukan hanya berdasarkan keinginan untuk memperpanjang usia. Kebutuhan tersebut perlu mempertimbangkan berbagai faktor, terutama usia dan tingkat aktivitas fisik.
Jadi, temuan ini lebih tepat dipahami sebagai gambaran mengenai bagaimana jumlah dan jenis asupan protein dapat memengaruhi proses biologis yang berkaitan dengan penuaan, bukan sebagai anjuran untuk menjalani diet rendah protein secara sembarangan.
