
Jakarta – Latte dan cappuccino merupakan dua minuman kopi berbasis espresso yang sama-sama populer di berbagai kedai kopi. Karena sama-sama menggunakan espresso dan susu, banyak orang menganggap keduanya serupa. Padahal, ada sejumlah perbedaan mulai dari komposisi, tekstur, cita rasa, hingga kandungan kalori.
Meski tidak ada yang lebih unggul karena semuanya bergantung pada selera, memahami karakter masing-masing minuman dapat membantu memilih kopi yang paling sesuai. Berikut penjelasannya.
1. Latte dan Perjalanannya
Kata latte mulai dikenal dalam bahasa Inggris melalui esai Italian Journeys pada 1867. Seiring berkembangnya mesin espresso dan teknik mengukus susu, minuman ini semakin populer di berbagai negara.
Mengacu pada Nescafe (1/7/2026), latte mulai banyak dijual di coffee shop sejak awal abad ke-20, meski diyakini telah ada jauh sebelumnya. Minuman ini berasal dari Italia, namun berkembang berkat kebiasaan wisatawan Amerika yang menginginkan rasa kopi lebih ringan. Penambahan susu dilakukan untuk mengurangi karakter pahit espresso sehingga lebih mudah dinikmati.
Awalnya latte identik sebagai minuman sarapan karena dianggap mampu memberi energi di pagi hari. Kini, latte dinikmati kapan saja, baik pagi, siang, maupun sore.
Komposisi latte umumnya menggunakan perbandingan 1 bagian espresso dan 3 bagian susu steamed, kemudian diberi lapisan tipis microfoam di bagian atas.
Karena kandungan susunya lebih banyak, latte memiliki tekstur yang lembut, creamy, dan rasa kopi yang tidak terlalu dominan. Minuman ini biasanya disajikan dalam gelas berukuran sekitar 240 hingga 300 ml.
2. Asal-usul Cappuccino
Cappuccino memiliki sejarah yang berbeda. Menurut Otten Coffee (16/5/2023), nama minuman ini diyakini terinspirasi dari jubah cokelat para biarawan Ordo Capuchin. Warna kopi yang berpadu dengan susu dianggap menyerupai warna pakaian mereka.
Cappuccino mulai dikenal di Italia Utara sekitar dekade 1930-an. Berbeda dengan latte, racikan cappuccino menggunakan komposisi 1:1:1, yakni satu bagian espresso, satu bagian susu steamed, dan satu bagian busa susu.
Lapisan busa yang tebal menjadi ciri khas cappuccino sehingga menghasilkan sensasi ringan sekaligus creamy saat diminum. Minuman ini umumnya disajikan dalam cangkir yang lebih kecil, sekitar 150 hingga 180 ml.
Dibandingkan latte, rasa espresso pada cappuccino lebih terasa karena jumlah susunya lebih sedikit. Perpaduan pahit kopi, manis alami susu, dan tekstur busa menghasilkan cita rasa yang lebih seimbang.
3. Perbedaan Latte dan Cappuccino
Walaupun sama-sama dibuat dari espresso dan susu, keduanya memiliki karakter yang berbeda.
Perbedaan paling mencolok terletak pada komposisi susu. Latte mengandalkan susu steamed dalam jumlah lebih banyak dengan lapisan busa yang tipis. Sementara cappuccino memiliki busa susu yang jauh lebih tebal sehingga teksturnya terasa lebih ringan dan berbuih.
Dari segi penyajian, latte dibuat dengan menuangkan espresso lalu menambahkan susu steamed dalam jumlah besar sebelum diberi sedikit busa di permukaan, yang juga menjadi media untuk membuat latte art.
Sebaliknya, cappuccino disusun dengan lapisan espresso, susu steamed, kemudian busa susu yang tebal. Teknik ini menghasilkan minuman dengan tekstur lebih kaya serta rasa kopi yang lebih kuat dibanding latte.
4. Kalori dan Kandungan Kafein
Jika dilihat dari nilai gizinya, cappuccino umumnya memiliki kalori lebih rendah karena menggunakan susu dalam jumlah lebih sedikit. Dalam satu gelas berukuran sekitar 240 ml, cappuccino biasanya mengandung sekitar 80–120 kalori, meski jumlah tersebut tetap bergantung pada jenis susu dan tambahan gula atau sirup.
Sementara itu, latte mengandung sekitar 130–170 kalori untuk ukuran gelas yang sama. Kandungan kalorinya lebih tinggi karena proporsi susu yang digunakan lebih banyak.
Untuk kadar kafein, keduanya tidak memiliki perbedaan berarti. Baik latte maupun cappuccino umumnya memakai satu shot espresso yang mengandung sekitar 60–70 miligram kafein.
Secara keseluruhan, cappuccino sering dianggap sedikit lebih ringan dari sisi kalori dan lemak. Namun, pilihan terbaik tetap bergantung pada preferensi rasa, kebutuhan nutrisi, serta bahan tambahan yang digunakan saat penyajian.
