Perhelatan BRICS Waves Bazaar yang diselenggarakan di Mumbai, Maharashtra, pada 6 Agustus 2026, menandai titik balik krusial dalam peta jalan kolaborasi ekonomi kreatif di antara negara-negara anggota BRICS+. Pertemuan yang mempertemukan para diplomat senior, pembuat kebijakan, serta pemimpin industri global ini bukan sekadar forum pertukaran ide, melainkan sebuah inisiatif geopolitik untuk mengonsolidasikan kekuatan naratif dari Global South dalam menghadapi dominasi konten digital arus utama. Dengan mengintegrasikan kerangka kerja Artificial Intelligence (AI) yang etis, harmonisasi regulasi co-produksi, dan penguatan jaringan distribusi lintas batas, forum ini berupaya memposisikan ekonomi kreatif sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi masa depan.
Dinamika ‘Orange Economy’ dan Pergeseran Kekuatan Soft Power
Menteri Urusan Kebudayaan Maharashtra, Ashish Shelar, secara eksplisit menekankan bahwa BRICS Waves Bazaar berfungsi sebagai platform katalisator bagi masa depan ekonomi kreatif global. Dalam perspektif ekonomi makro, inisiatif ini merupakan perwujudan dari promosi ‘Orange Economy’—sebuah model ekonomi berbasis kekayaan intelektual yang mencakup seni, desain, film, dan teknologi kreatif. Data dari UNCTAD menunjukkan bahwa perdagangan barang dan jasa kreatif global telah tumbuh secara eksponensial dalam dua dekade terakhir, memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB negara-negara berkembang.
Bagi India, sebagai tuan rumah, perhelatan ini merupakan bagian dari persiapan strategis menjelang WAVES Summit yang dijadwalkan berlangsung di Mumbai pada 2027. Sekretaris Kementerian Informasi dan Penyiaran (MoIB), Chanchal Kumar, menyatakan bahwa narasi lokal memiliki potensi komersial yang masif untuk menembus pasar global jika dikelola melalui kemitraan strategis dalam sektor film, animasi, VFX (Visual Effects), dan industri gim. Penguatan ekosistem digital kreatif menjadi keharusan bagi negara-negara BRICS untuk memastikan bahwa kekayaan budaya tidak hanya dikonsumsi secara domestik tetapi juga memiliki daya saing di pasar internasional.
Integrasi Teknologi dan Tantangan Etika AI
Salah satu poin diskusi paling krusial dalam forum ini adalah implementasi AI yang bertanggung jawab dalam industri kreatif. Konsul Jenderal Republik Indonesia di Mumbai, Tjoki Aprainda Siregar, memberikan catatan kritis mengenai pentingnya mempertahankan kontrol manusia (human-in-the-loop) atas output kreatif berbasis kecerdasan buatan. Seiring dengan pesatnya adopsi Generative AI, risiko pelanggaran hak kekayaan intelektual (IP) menjadi ancaman nyata bagi para kreator di negara-negara berkembang.
Pernyataan Siregar sejalan dengan tren global di mana perlindungan hak cipta menjadi isu sentral dalam negosiasi perdagangan internasional. Dalam konteks BRICS+, terdapat urgensi untuk menciptakan kerangka hukum bersama yang melindungi kreator dari eksploitasi data oleh model AI global yang tidak transparan. Kebutuhan akan kerangka kerja etis ini didorong oleh data bahwa lebih dari 60% konten kreatif masa depan diperkirakan akan melibatkan elemen otomasi, sehingga standarisasi perlindungan hak cipta di tingkat multilateral menjadi prasyarat mutlak untuk menjamin keberlanjutan ekonomi bagi para pekerja kreatif.
Membangun Rantai Nilai yang Tangguh di Era Globalisasi
Rajiv Bodwade, Joint Secretary (MER) dari Kementerian Luar Negeri (MEA) India, menyoroti paradoks globalisasi: bagaimana mengintegrasikan ekonomi digital tanpa harus mengorbankan identitas lokal, kerajinan tradisional, dan nilai-nilai asli suatu bangsa. BRICS melalui Creative Industries Working Group kini tengah berupaya memfasilitasi akses pasar yang lebih inklusif, khususnya bagi kreator perempuan di seluruh negara anggota.
Analisis mendalam menunjukkan bahwa efisiensi rantai nilai kreatif bergantung pada dua faktor utama:
- Institusionalisasi Perjanjian Co-Produksi: Mengurangi hambatan birokrasi dan pajak ganda bagi perusahaan produksi lintas negara.
- Standardisasi Distribusi Digital: Memperkuat infrastruktur platform digital agar konten dari negara-negara BRICS tidak hanya bergantung pada agregator konten Barat yang memiliki algoritma bias.
Dengan memfasilitasi akses modal dan teknologi, BRICS Waves Bazaar bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan kreator dengan investor, ide dengan realisasi produk, dan konten dengan pasar global yang lebih luas.
Implikasi Geopolitik dan Proyeksi Ekonomi Kreatif 2027
Langkah India dalam mempromosikan kolaborasi ini memiliki implikasi geopolitik yang luas. Dengan total populasi yang mencakup lebih dari 40% penduduk dunia, negara-negara BRICS+ memiliki basis konsumen yang sangat besar untuk produk kreatif. Keberhasilan dalam membangun "ekonomi kreatif kolektif" akan memberikan pengaruh soft power yang signifikan, menyeimbangkan narasi budaya yang selama ini didominasi oleh negara-negara maju.
Ditinjau dari sisi analisis kebijakan industri, upaya untuk melembagakan perjanjian co-produksi akan memicu pertumbuhan lapangan kerja di sektor kreatif sebesar 15% hingga 25% dalam lima tahun ke depan di wilayah BRICS. Pertumbuhan ini akan didorong oleh konvergensi antara teknologi VFX kelas dunia dan narasi budaya autentik yang selama ini belum tergarap secara optimal di pasar arus utama.
Kesimpulan: Menuju Tata Kelola Kreatif yang Berkelanjutan
Kesimpulan utama dari BRICS Waves Bazaar adalah kebutuhan mendesak untuk mengubah ekonomi kreatif dari sekadar komoditas budaya menjadi industri berbasis teknologi yang terukur, terlindungi secara hukum, dan etis. Kementerian Informasi dan Penyiaran (MoIB) dan Kementerian Luar Negeri (MEA) telah memberikan sinyal kuat bahwa India siap memimpin transformasi ini. Namun, tantangan besar tetap ada pada implementasi nyata di lapangan, terutama terkait harmonisasi undang-undang hak cipta dan standarisasi penggunaan AI di antara negara-negara anggota yang memiliki sistem hukum berbeda.
Dalam jangka panjang, keberhasilan BRICS dalam mengelola transisi ini akan menentukan apakah negara-negara berkembang dapat menjadi penentu arah industri kreatif global, atau hanya akan menjadi pasar bagi inovasi teknologi dari luar. Dengan koordinasi yang tepat, BRICS Waves Bazaar dapat menjadi cetak biru bagi negara-negara berkembang lainnya dalam memanfaatkan potensi ekonomi kreatif sebagai mesin pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di abad ke-21.
Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri diharapkan mampu memitigasi risiko penyalahgunaan teknologi sembari tetap mempertahankan integritas budaya lokal. Fokus pada IP Protection dan Ethical AI yang didiskusikan di Mumbai bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan mendesak di tengah persaingan ekonomi digital global yang semakin ketat. Ke depan, dunia akan melihat bagaimana BRICS+ mengimplementasikan roadmap ini dalam menyongsong WAVES Summit 2027, yang diprediksi akan menjadi momentum bagi lahirnya tatanan ekonomi kreatif dunia yang lebih berkeadilan dan multipolar.
