
Jakarta – Kebiasaan minum air putih ketika menyantap makanan ternyata belum tentu membuat seseorang lebih cepat kenyang. Sebuah penelitian terbaru justru menemukan adanya kaitan antara lebih banyak minum air selama makan dengan meningkatnya jumlah makanan yang dikonsumsi.
Temuan tersebut berasal dari analisis penelitian yang dilakukan oleh tim dari Cornell University dan diterbitkan dalam jurnal Appetite. Para peneliti menemukan bahwa peserta yang mengonsumsi air lebih banyak selama makan cenderung menyantap makanan dalam jumlah lebih besar.
Penelitian ini menganalisis data dari dua eksperimen sebelumnya dengan total 86 orang dewasa. Dalam eksperimen tersebut, peserta menyantap makanan berupa beef chili atau chicken tikka masala dalam jumlah yang mereka inginkan. Mereka juga mendapatkan air putih selama makan.
Hasilnya cukup mengejutkan. Setiap tambahan sekitar 100 mililiter air yang diminum selama makan berkaitan dengan konsumsi makanan sekitar 39-40 gram lebih banyak. Jumlah tersebut setara dengan tambahan hampir 50 kalori.
Bukan hanya jumlah air yang diminum, pola antara makan dan minum juga tampaknya berhubungan dengan banyaknya makanan yang masuk. Peserta yang lebih sering berganti dari menyuap makanan kemudian menyesap air, atau sebaliknya, cenderung makan lebih banyak.
Mengapa Air Bisa Membuat Makan Lebih Banyak?
Para peneliti menduga salah satu penyebabnya berkaitan dengan sensasi makanan di dalam mulut. Ketika seseorang menyelingi makanan dengan air, sensasi di mulut dapat kembali terasa lebih segar sehingga makanan tetap menarik untuk dinikmati.
Fenomena tersebut berkaitan dengan sensory-specific satiety, yakni kondisi ketika kenikmatan terhadap makanan perlahan menurun setelah makanan yang sama dikonsumsi terus-menerus. Bergantian antara makanan dan air diduga dapat memperpanjang ketertarikan terhadap makanan sehingga seseorang makan lebih lama sebelum berhenti.
Paige Cunningham, salah satu peneliti, menjelaskan bahwa anggapan air dapat membuat perut terasa penuh dalam waktu lama tidak sepenuhnya didukung oleh temuan ini.
Menurutnya, air dapat keluar dari lambung dengan relatif cepat sehingga efek kenyang yang ditimbulkannya kemungkinan tidak bertahan lama. Selain itu, air juga dapat membantu proses mengunyah dan menelan dengan membuat mulut tidak terasa kering.
Dengan kondisi tersebut, proses makan bisa terasa lebih nyaman dan bahkan berlangsung lebih cepat. Kenikmatan terhadap makanan pun dapat bertahan lebih lama.
Minum Lebih Cepat Malah Berkaitan dengan Makan Lebih Sedikit
Meski secara umum konsumsi air yang lebih banyak dikaitkan dengan asupan makanan lebih tinggi, penelitian tersebut menemukan satu hasil yang cukup berbeda.
Peserta yang minum air dengan lebih cepat justru cenderung mengonsumsi makanan lebih sedikit dibandingkan mereka yang menyesap air secara perlahan sepanjang waktu makan. Peneliti belum dapat memastikan mengapa pola tersebut muncul.
Cunningham mengatakan temuan itu masih perlu diteliti lebih lanjut. Pasalnya, analisis yang dilakukan merupakan penelitian terhadap hubungan antarvariabel sehingga belum dapat memastikan bahwa minum air secara langsung menyebabkan seseorang makan lebih banyak atau lebih sedikit.
Tidak Berarti Harus Berhenti Minum Air Saat Makan
Hasil penelitian ini bukan berarti minum air putih ketika makan harus dihindari. Para peneliti sendiri menekankan bahwa studi dilakukan dalam kondisi laboratorium dengan jenis makanan yang terbatas, sehingga hasilnya belum tentu berlaku sama dalam semua situasi makan sehari-hari.
Temuan tersebut lebih menunjukkan bahwa kebiasaan makan dan minum dapat berhubungan dengan jumlah makanan yang dikonsumsi. Dalam penelitian ini, semakin banyak air yang diminum dan semakin sering seseorang bergantian antara makanan dengan air, semakin tinggi pula asupan makanan yang tercatat.
Dengan demikian, anggapan bahwa minum air saat makan selalu membuat seseorang lebih cepat kenyang perlu dilihat secara lebih hati-hati. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memahami bagaimana kecepatan minum, frekuensi berganti antara makan dan minum, serta karakteristik makanan memengaruhi jumlah makanan yang dikonsumsi.
