Sektor manufaktur elektronik India saat ini berada di titik krusial dalam lintasan pertumbuhan ekonominya. Berdasarkan temuan terbaru dari Koan Advisory Group yang bermitra dengan Institute of Chinese Studies (ICS), ketergantungan India terhadap impor komponen elektronik dari Tiongkok bukan sekadar fenomena perdagangan jangka pendek, melainkan manifestasi dari integrasi rantai pasok yang mendalam dan bersifat struktural. Data tahun fiskal 2025-26 menunjukkan bahwa Tiongkok mendominasi setidaknya 80 persen pangsa pasar impor India pada 71 klasifikasi tarif delapan digit, sebuah lonjakan konsentrasi yang signifikan dibandingkan periode 2018-19. Fenomena ini menempatkan defisit perdagangan bilateral kedua negara pada angka fantastis, yakni USD 112,1 miliar, di mana sektor mesin listrik dan peralatan elektronik (HS Chapter 85) berkontribusi sebesar USD 43,1 miliar atau sekitar 38 persen dari total defisit tersebut.
Anatomi Ketergantungan: Bukan Sekadar Produk Jadi
Analisis mendalam terhadap data perdagangan menunjukkan bahwa ketergantungan India tidak terletak pada barang konsumsi akhir yang memiliki margin rendah, melainkan pada komponen inti yang menjadi fondasi bagi infrastruktur strategis nasional. Produk-produk yang mencakup motor listrik, kabel, peralatan switching, serta komponen krusial dalam ekosistem telekomunikasi dan permesinan industri merupakan titik tekan utama.
Dalam konteks ekonomi makro, ketergantungan ini mencerminkan celah kapasitas manufaktur domestik (domestic manufacturing capacity) yang belum mampu mengimbangi kecepatan ekspansi permintaan domestik. Sebagaimana dijelaskan oleh Samira Sarah Abraham, Economics Lead di Koan Advisory Group, integrasi ini adalah realitas ekonomi yang tidak dapat dihindari dalam jangka pendek. Upaya memutus ketergantungan secara drastis justru berisiko mengganggu stabilitas industri hilir yang bergantung pada ketersediaan komponen tersebut. Oleh karena itu, narasi kebijakan yang diperlukan adalah "bekerja dengan integrasi," bukan melakukan proteksionisme agresif yang kontraproduktif.
Dinamika Komponen Strategis: Baterai Lithium-Ion dan Semikonduktor
Salah satu sektor yang menjadi sorotan utama dalam laporan ini adalah teknologi penyimpanan energi. Impor baterai lithium-ion dari Tiongkok ke India telah mengalami eskalasi drastis, naik dua kali lipat sejak tahun 2021-22 hingga mencapai USD 3,9 miliar pada 2025-26. Dengan penguasaan pangsa pasar sebesar 83,6 persen, Tiongkok secara efektif memegang kendali atas rantai pasok transisi energi India, termasuk ambisi negara tersebut dalam pengembangan mobilitas listrik (electric mobility).
Di sisi lain, sektor semikonduktor menyajikan dinamika yang lebih kompleks. Meskipun Tiongkok tetap menjadi pemasok utama dengan pangsa 48,9 persen, angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan tahun fiskal 2024-25 yang mencapai 64 persen. Pergeseran ini mengindikasikan adanya diversifikasi sumber pasokan—meskipun masih terbatas—ke negara-negara seperti Singapura (8,4 persen), Indonesia (7,5 persen), dan Vietnam (6,6 persen). Meskipun demikian, dominasi hulu tetap menjadi tantangan utama bagi kebijakan industri manufaktur di India.
Mengapa Lokalisasi Berbasis Target Adalah Kunci?
Santosh Pai, anggota Governing Council di Institute of Chinese Studies, menekankan bahwa kebijakan industri masa depan harus meninggalkan pendekatan broad-based atau proteksionisme menyeluruh yang seringkali tidak efektif. Sebaliknya, pemerintah India disarankan untuk menerapkan lokalisasi yang ditargetkan (targeted localisation). Strategi ini berfokus pada peningkatan nilai tambah (value addition) pada segmen-segmen hulu yang memiliki dampak ekonomi tinggi.
Dalam pandangan para pengamat industri, upaya untuk membangun kapasitas domestik harus diprioritaskan pada komponen yang memiliki ketergantungan tinggi namun memiliki relevansi strategis jangka panjang. Hal ini mencakup:
- Peningkatan Kapasitas Manufaktur Hulu: Fokus pada desain dan fabrikasi komponen elektronik dasar yang saat ini masih diimpor dalam bentuk semi-jadi.
- Integrasi Rantai Pasok Global: Memanfaatkan keterlibatan dengan pemain global untuk menarik investasi Foreign Direct Investment (FDI) yang berorientasi pada transfer teknologi, bukan sekadar perakitan akhir (assembly).
- Kebijakan Insentif Terarah: Mengoptimalkan skema seperti Production Linked Incentive (PLI) agar lebih spesifik menyasar produsen komponen, bukan hanya merek konsumen akhir.
Analisis Risiko dan Dampak Jangka Panjang
Ketergantungan pada satu negara dalam rantai pasok elektronik menciptakan kerentanan sistemik. Gangguan pada rantai pasok global, seperti yang terjadi selama krisis logistik global beberapa tahun lalu, membuktikan bahwa konsentrasi impor yang terlalu tinggi dapat melumpuhkan sektor manufaktur nasional dalam sekejap.
Bagi India, tantangan utamanya adalah bagaimana mengubah statusnya dari negara "perakit" menjadi negara "produsen komponen". Investasi dalam riset dan pengembangan (R&D) serta pembangunan infrastruktur pendukung manufaktur yang efisien menjadi prasyarat mutlak. Tanpa langkah konkret dalam meningkatkan kedalaman industri (industrial depth), India akan terus terjebak dalam siklus defisit perdagangan yang melemahkan daya saing mata uang dan kemandirian ekonominya.
Selain itu, ketergantungan pada Tiongkok dalam komponen kritis seperti baterai lithium-ion juga berimplikasi pada keamanan nasional. Dalam lanskap geopolitik yang dinamis, kemampuan untuk mengamankan rantai pasok energi dan teknologi informasi adalah variabel kunci dalam menjaga kedaulatan ekonomi. Oleh karena itu, pendekatan yang diusulkan oleh Koan Advisory Group—yakni mencari keseimbangan antara integrasi pasar dan pembangunan kapabilitas domestik—merupakan langkah pragmatis yang realistis.
Proyeksi Masa Depan: Menuju Kemandirian Elektronik
Menatap ke depan, transformasi sektor elektronik India tidak akan terjadi dalam semalam. Data yang ada menunjukkan bahwa India sedang berada dalam fase transisi di mana ketergantungan impor masih tinggi namun kesadaran akan urgensi lokalisasi sudah mencapai tingkat kebijakan tertinggi. Langkah pemerintah untuk mulai menargetkan segmen-segmen spesifik dalam ekosistem industri teknologi adalah sinyal positif.
Namun, keberhasilan ini sangat bergantung pada eksekusi di lapangan. Infrastruktur yang memadai, akses energi yang kompetitif, serta kemudahan berbisnis bagi produsen komponen lokal menjadi variabel penentu. Jika India berhasil mereplikasi keberhasilan sektor-sektor manufaktur lain ke dalam industri elektronik, maka bukan tidak mungkin dalam satu dekade mendatang, profil perdagangan negara ini akan berubah secara signifikan, dengan rasio impor komponen yang menurun seiring dengan meningkatnya ekspor barang bernilai tambah tinggi.
Sebagai kesimpulan, laporan ini menjadi pengingat keras bagi para pembuat kebijakan di New Delhi. Bahwa dalam ekonomi global yang terintegrasi, isolasi bukanlah pilihan. Namun, membiarkan ketergantungan struktural tanpa upaya lokalisasi yang terukur adalah kegagalan strategis. Fokus pada "lokalisasi hulu" adalah prasyarat untuk mengubah India menjadi pusat manufaktur elektronik global yang tangguh dan mandiri. Data 2025-26 ini harus dibaca sebagai peringatan sekaligus peta jalan bagi langkah-langkah industrialisasi yang lebih presisi dan berorientasi pada masa depan.
