
Kemunculan pusaran angin kecil di kawasan Lautan Pasir Gunung Bromo kembali menarik perhatian wisatawan. Fenomena yang dikenal sebagai dust devil atau sering dijuluki “debu setan” itu sempat terekam dalam video dan ramai dibicarakan di media sosial.
Meski terlihat menyerupai tornado berukuran kecil, banyak pengunjung di lokasi justru memilih menyaksikan fenomena tersebut dari kejauhan. Sejumlah pedagang yang berada di sekitar area juga tampak tetap beraktivitas tanpa menunjukkan kepanikan.
Pusaran Debu Terjadi Saat Musim Kemarau
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo menjelaskan bahwa kemunculan dust devil merupakan fenomena alam yang lazim terjadi di kawasan kaldera Gunung Bromo, terutama ketika musim kemarau.
Dalam rekaman yang beredar, pusaran angin terlihat mengangkat debu, pasir, hingga benda-benda ringan di sekitarnya. Meski sekilas menyerupai angin puting beliung, BPBD menegaskan bahwa keduanya memiliki proses pembentukan yang berbeda.
Berasal dari Pemanasan Permukaan Tanah
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, menjelaskan bahwa dust devil terbentuk akibat suhu permukaan tanah yang sangat panas ketika cuaca cerah.
Hamparan lautan pasir Bromo yang luas, kering, dan minim vegetasi membuat permukaan tanah menyerap panas matahari secara maksimal. Udara panas yang berada dekat permukaan kemudian naik dengan cepat dan bertemu dengan lapisan udara yang lebih dingin di atasnya.
Perbedaan suhu tersebut memicu terbentuknya pusaran udara yang membawa debu dan pasir halus ke atas sehingga tampak seperti tornado kecil.
Berbeda dengan angin puting beliung yang berasal dari awan cumulonimbus, dust devil muncul dari permukaan tanah. Fenomena ini bersifat lokal, berdurasi singkat, serta umumnya tidak menimbulkan kerusakan berarti.
Wisatawan Diminta Tidak Mendekat
Walaupun relatif aman, BPBD tetap mengimbau wisatawan agar tidak mendekati pusaran debu ketika fenomena tersebut muncul.
Pengunjung disarankan menjaga jarak aman serta menggunakan masker untuk mengurangi paparan debu yang beterbangan. Kacamata pelindung juga dianjurkan agar mata tidak terkena pasir, sementara tabir surya maupun pelembap dapat membantu melindungi kulit dari paparan sinar matahari yang cukup terik di kawasan Bromo.
Apabila pusaran angin melintas di sekitar lokasi, wisatawan diminta tetap tenang, menghentikan aktivitas sejenak, melindungi mata bila diperlukan, dan menunggu hingga pusaran tersebut menghilang dengan sendirinya.
