
Jakarta – Telur selama ini sering dihindari karena dianggap mengandung kolesterol tinggi. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa konsumsi telur dalam jumlah yang wajar justru berkaitan dengan penurunan risiko penyakit Alzheimer, salah satu gangguan neurodegeneratif yang memengaruhi daya ingat dan fungsi otak.
Selain mudah didapat dan memiliki harga yang relatif terjangkau, telur juga dikenal sebagai sumber protein dan nutrisi yang dapat diolah menjadi berbagai hidangan sehari-hari.
Temuan tersebut dilaporkan dalam The Journal of Nutrition melalui penelitian yang dipimpin oleh Dr. Jisoo Oh. Studi ini melibatkan hampir 40.000 orang berusia 65 tahun ke atas yang terdaftar sebagai peserta Medicare dan belum memiliki diagnosis Alzheimer saat penelitian dimulai.
Penelitian berlangsung lebih dari 15 tahun. Selama periode tersebut, para peserta diminta mengisi kuesioner mengenai pola makan mereka, termasuk seberapa sering mengonsumsi telur setiap minggu.
Berdasarkan data yang terkumpul, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok, mulai dari yang hampir tidak pernah makan telur hingga mereka yang mengonsumsinya lima kali atau lebih setiap pekan.
Selama masa pemantauan, tercatat 2.858 peserta didiagnosis menderita Alzheimer. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok yang makan telur satu kali dalam seminggu memiliki risiko Alzheimer sekitar 17 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya.
Sementara itu, peserta yang mengonsumsi telur dua hingga empat kali per minggu mengalami penurunan risiko hingga 20 persen. Adapun kelompok dengan konsumsi tertinggi, yaitu lima kali atau lebih setiap minggu, memiliki risiko Alzheimer sekitar 27 persen lebih rendah.
“Kesimpulan utama penelitian ini adalah konsumsi telur dalam jumlah sedang secara konsisten dikaitkan dengan risiko Alzheimer yang lebih rendah,” ujar Dr. Jisoo Oh.
Menurut tim peneliti, hubungan tersebut tetap terlihat meskipun telah memperhitungkan berbagai faktor lain, seperti pola makan secara keseluruhan, gaya hidup, serta kondisi kesehatan para peserta.
Dr. Oh menjelaskan bahwa telur mengandung sejumlah nutrisi yang berperan penting bagi kesehatan otak, di antaranya kolin, vitamin B12, lutein, dan asam lemak omega-3. Sebagian besar zat gizi tersebut terdapat pada bagian kuning telur.
“Lebih dari 90 persen kandungan kolin pada telur berasal dari kuning telurnya,” jelasnya.
Kolin diketahui berperan dalam menjaga fungsi saraf dan dikaitkan dengan penurunan risiko gangguan kognitif maupun demensia. Sementara itu, omega-3 membantu menjaga kesehatan membran sel otak, mendukung komunikasi antarsel saraf, serta berpotensi mengurangi peradangan.
Meski hasil penelitian ini menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa telur bukanlah satu-satunya cara untuk mencegah Alzheimer. Manfaatnya akan lebih optimal jika dikombinasikan dengan pola makan bergizi seimbang dan gaya hidup sehat.
Selain itu, mereka menilai konsumsi telur utuh memberikan manfaat lebih besar dibanding hanya mengonsumsi putih telurnya karena sebagian besar nutrisi penting berada pada kuning telur.
Cara pengolahan juga perlu diperhatikan. Merebus telur dinilai sebagai pilihan yang lebih sehat dibanding menggorengnya dengan tambahan minyak atau lemak dalam jumlah banyak.
